Papan Rata (16/9) Fakultas Hukum UII mengawali langkah selenggarakan Outbond Management Training (OMT) mulai Jum’at, 15 – 17 September 2017 di Papan Rata Gunung Lawu Jawa Timur. Diikuti oleh jajaran pimpinan dan pejabat administratif Fakultas Hukum UII termasuk para kepala urusan lebih kurang 25 orang

Berangkat dengan BIS VIP UII, rombongan peserta Outbond selepas Shalat Jum’at. Tidak seperti biasa kegiatan semacam ini hanya terbayang bakalan tidur di penginapan, terus mengikuti berbagai permainan yang sudah disediakan fasilitator. Gambaran bakalan nyantai, senang-senang, dan bergembira. Kata orang refreshing identik dengan bergembira dan lupakan semua beban pekerjaan. Tidur di tempat yang nyaman, selepas bermain, makan, kemudian istirahat.

Ketika tiba di lokasi di Hutan Papan Rata, satu lokasi seluas 74Ha  tanah milik PT. Perhutani Karanganyar diberikan kepada H-Read UNISIA untuk dikelola sebagai kawasan konservasi dan pembinaan karakter. Hutan yang baru dibuka beberapa bulan terakhir walaupun sudah dilengkapi dengan mushalla sederhana ukuran 6 x 6 meter persegi dan 8 buah kamar mandi luar terasa sejuk dan dingin. Tidak ada penginapan dan tidak ada bungalo tempat nyantai. Berdiri reot 4 tenda besar masing-masing cukup untuk 15 an orang.

Senja itu semakin dingin dan gelap, penerangan hanya dari genset ukuran 1000 an watt ada 2 buah untuk penerangan peserta dan fasilitator yang terdiri dari 8 orang yang bakal mendampingi kita selama 2 hari ke depan. Malam yang mulai dingin merasuk sampai ke tulang ketika kulit kami bersinggungan dengan air wudlu. Selepas shalat Isya kami berkumpul di salah satu tenda tanpa tutup dan disitu telah dipajang mengular dan melingkar di atas kertas minyak yang dijajar-jajar. Itulah cara makan kami, sedemikian mengagetkan, khususnya bagi para pejabat yang sudah lama banget merasakan kenikmatan suasana seperti itu. Dan eksotik dan sempurna, memori kami menerobos waktu mengajak mengingat sedemikian nikmatnya kala kekurangan. Dan betapa serakah dan tidak bersyukurnya saat ini, dengan berbagai kenimatan yang sudah diberikan-Nya.

Selepas acara penyambutan, berakrab ria dengan api unggun yang menyala, berteriak bebas tanpa batas. Tidak ada lagi pejabat, tidak ada lagi Pak Dekan, Pak Wadek, tidak ada lagi embel-embel doktor dan yang ahli madya. Semua menjadi anak kecil saling ejek dan serang dengan argumen yang kadang tidak masuk akal, asal ngomong, ceplos sekenanya. Menyakitkan tetapi sangat akrab, dan tidak ada bekas luka yang menganga dalam satu rasa. Tidur dalam di kedinginan tenda yang tak jarang dari kami sebentar-sebentar terjaga karena kaku kedinginan. Bahkan sebagian ada pula yang terjaga semalaman berharap mentari segera menghangati sanubari.

Akhirnya tiba dipenghujung malam, dan tinginnya air tidak menghentikan peserta untuk membasuh raga untuk menghadapNya. Teringsut selimut tidak mampu membendung keinginan untuk sujud dan bersyukur atas kenikmatan yang telah dirasa. Bermunajat mohon ampun mengingat segala khilaf dan dosa. Seusai tahajud peserta dan fasilitator berjamaah subuh dilanjutkan pengajian kultum oleh Agus Triyanta. Beliau menyampaikan satu surat Yunus ayat 6 yang mengatakan Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang- orang yang bertakwa. “Oleh karena itu kita harus menjadi orang-orang yang bertaqwa sehingga dapat melihat berbagi tanda kekuasaan Allah SWT melalui alam seisinya dan kejadian di dalamnya,” jelas Agus Triyanta.

Suasana pagi yang cerah cukup memberikan kehangatan apalagi semalam banyak peserta kurang tidur. Perjalanan menyusuri semak belukar menyisir jalan setapak semakin menghangatkan badan. Bertambah hangat ketika kembali sampai di perkemahan sarapan pagi sudah menanti. Nasi goreng sederhana kita lahap bersama, “Alhamdulillah kenyang banget”, teriak Heri. Betapa nikmatnya makanan yang mungkin dianggap sederhana dalam keseharian namun terasa istimewa di perkemahan.

Perjuangan tidak berhenti di sini, perbagai permainan namun menyesatkan harus peserta lalui. Permainan yang sederhana dan biasa, bak anak kampung yang bermain saja namun penuh makna. “Kalau mau jadi tim work yang baik, kenali dulu anggota tim kalian. Potensi apa saja yang dimiliki dan karakter apa yang dimiliki”, kata Safarudin Alwi. “Dalam permainan yang sudah dilakukan peserta sekalian, menggambarkan bagaimana kerjasama, kebersamaan, kejujuran, kreativitas, ide, kompromi, kesabaran, sifat leader ship, dan yang tidak kalah pentingnya sifat follower ship. Kemampuan mendengarkan ide dari orang lain dan menghargai pendapat”, tambah Anas.

Dan hari keduapun dilalui peserta dengan gembira tapi penuh makna. Ketika mentari mulai condong ke barat, selepas shalat Dluhur semua peserta diminta mencoba untuk bermain flying fox menguji keberanian dalam ketinggian. Semua peserta berhasil melaluinya dengan baik tidak terkecuali peserta yang sudah berusia dan peserta dengan kelebihan berat badan tetap bersemangat menyelesaikan track ini. Teriak ejekan tidak memberikan surut keinginan untuk mencoba justru menjadi penyemangat untuk menyelesaikannya. Hanya perlu 1 jam untuk menyelesaikan permainan ini, waktu cukup singkat bagi kelompok yang didalamnya heterogenitas khususnya usia sangat tinggi. Permainan dianggap berhasil dengan kualitas pekerjaan dan waktu sangat cepat dijelaskan oleh fasilitator. “Acara hari ini cukup, dan akan kita lanjutkan besuk pagi dengan permainan terakhir. Permainan ini merupakan rangkuman dari permainan-permainan yang sudah kita lalui dua hari terakhir,” penjelasan dari Pak Budi. Pak budi seorang fasilitator H-Read yang relatif sudah tua, 74 tahun namun masih sehat dan energik.

Hari ketiga, merupakan puncaknya emosi dan munculnya semua sifat asli para peserta. Dalam permainan berantai memaksa semua peserta mengeluarkan ide-ide untuk menyelesaikan tantangan terakhir OTM. Karena ditekan oleh waktu untuk menyelesaikan maka setiap orang akan merasa mempunyai ide terbaik dan sulit untuk kompromi. Namun pada akhirnya selesailah tugas ini dengan baik, walaupun tidak dengan nilai sempurna karena batas waktu yang ditetapkan adalah 2 jam tepat. Jika melebihi maka nilai tidak akan mendapatkan nilai 100. Namun selama waktu lebih dari dua jam tersebut akan menjadi pengurang. Waktu untuk menyelesaikan adalah 2 jam 10 menit.

Seusai bermain pungkasan, rasa lega telah melaluinya. Hal yang kadang aneh, kenapa mau-maunya mengikuti permainan yang konyol dan lebih cocok untuk anak-anak. Namun keinginan untuk membuktikan bahwa suatu pekerjaan bersama dapat diselesaikan dengan baik dengan kerjasama dan komunikasi yang baik. Menerima pendapat orang lain dan mengikuti perintah dari personil yang menguasai permasalahan. Saling membantu semaksimal mungkin sesuai kemampuan dan perannya yang dipilih. Tidak saling melemahkan namun justru saling menguatkan. Perencanaan yang matang dan eksekusi penyelesaian yang sesempurna mungkin. Namun tetap membuktikan bahwa manusia tidak ada yang sempurna. Pasti ada kekurangan dan evaluasinya adalah sikap kita untuk senantiasa mengakui dan berniat memperbaiki diri.

OTM Fakultas Hukum UII 2017 ditutup dengan peneguhan peserta hasil OTM menjadi Pandu UNISI. Pandu UNISI mempunyai tugas untuk membimbing dan memberikan dorongan serta menjadi agen penguatan sikap mental dan sepiritual bagi civitas lainnya. Sifat-sifat yang baik dan mencerminkan rahmatan lil ‘alamin hendaknya selalu dipupuk dan dikembangkan sehingga akan lebih banyak orang-orang baik di negeri ini. Acara ditutup dengan ikrar Janji Pandu UNISI dan foto bersama.