Makasar (10/10) Alhamdulillahi rabbil’alamiin FKPH FH UII kembali memberikan prestasi membanggakan. Diwakili Alamsyah Nurahmad Putra (2014) sekaligus sebagai ketua, Kurniati Dwi Jayanti (2015),  dan Nanang Ardhyansa (2014) mewakili Fakultas Hukum UII dalam Kompetisi Debat di Universitas Mulawarman “Mulawarman Debate Competition-Mulawarman Ideas” mulai Senin-Selasa, 19-20 Muharram 1438H/9-10 Oktober 2017.

 

Kompetisi yang diselenggarakan dalam rangka Mulawarman Fistival 2k17 dengan rentetan kegiatan kemahasiswaan mulai dari olah raga, seni, dan ilmiah. Digelar mulai 23 September s/d 12 Oktober 2017. Salah satu yang diikuti oleh Forum Kajian dan Penulisan Hukum (FKPH) FH UII adalah Mulawarman Debate Competition yang diikuti oleh perwakilan perguruan tinggi di Indonesia. Diselenggarakan di Ruang Serbaguna Rektorat ll 4 Universitas Mulawarman Samarinda Kalimantan Timur pada 7 s/d 10 Oktober 2017.

 

Fakultas Hukum UII patut berbangga dengan FKPH dengan perolehan Juara 1 dalam kompetisi debat tersebut. Sekaligus Nanang Ardhyansa dinobatkan sebagai the best speaker dalam acara tersebut. Sedangkan Juara 2 adalah Universitas Mulawarman. Perguruan tinggi lain yang mengikuti kompetisi tersebut antara lain Univeraitas Sriwijaya, Univeraitas Hasanudin, Universitas Airlangga, Universitas Jambi, Universitas Teknologi Kalimantan, dan Universitas Nahdatul Ulama.

 

Komentar alamsyah sebagai ketua tim “National Debat Competition Mulawarman festifal adalah lomba yang sangat prestigious dan competitive. “Kami menghadapi dan beradu argumen dengan debater sekala nasional”, ungkap Alamsyah. “Alhamdulillah kami dapat mengharumkan nama Universitas Islam indonesia khususnya Fakuktas Hukum. Kami mendapatkan Juara 1 dan sekaligus menjadi best speaker “, rasa syukur mereka kepada Allah SWT. “Kami sampaikan terimakasih atas bantuan pihak kampus, LEM, DPM, dan khususnya UKM FKPH yang selalu men-support kami. Kami menyakini usaha tidak akan menghiyanati hasil, karena Allah SWT telah memfirmankan laayughayiruma bikaumin hatta yughayirumaa bi amfusihim-nasib suatu kaum tidak akan berubah jika kaum tersebut tidak mau mengubah nasibnya sendiri”.

 

Kurnia Dwi Jayanti menyampaikan, “dengan mosi yang diberikan hanya satu hari sebelum pertandingan. Yaitu sehari ketika babak penyisihan, bahkan babak 8 besar mosi diberikan 30 menit sebelum babak semifinal dan final. Tantangan tersebut menjadikan kami harus berjuang lebih keras dan berfikir cerdas”. Sedangkan Nanang mengatakan, “kami mendapatkan banyak pengetahuan, ilmu, dan pengalaman yang sangat berharga selama mengikuti kompetisi di Universitas Mukawarman. Saya menyakini debaters yang hebat adalah debaters yang tidak gambang puas”.