, ,

Condolence

The Entire Civitas Academia of the Faculty of Law Universitas Islam Indonesia Mourned the Death of One of Our Alumnae. Tommy Apriando was former student of Faculty of Law UII Year 2007. His path as a journalist, social activist, and alumnae may give great inspiration toward the younger students after him. Rest in Peace. May Allah give him Jannah.

Tugas HHI kelas A

Kepada Yth. Mahasiswa yang mengambil MK Hukum dan Hubungan Internasional kelas A silahkan kerjakan kasus berikut dan jawab pertanyaannya. Dikarenakan google classroom belum terkoneksi dengan akun Bapak Dodik Setiawan, PhD, maka dipersilahkan mengumpulkan tugas ini menggunakan kertas responsi. Bagi yang mengerjakan mendapatkan nilai tugas dan dianggap hadir kuliah.

Bacalah deskripsi kasus berikut ini:

Meningkatnya persaingan bisnis di era globalisasi saat ini menyebabkan banyak perusahaan transnasional berdiri di berbagai negara dengan tujuan meningkatkan produksi dengan biaya murah dan mencoba mempeluas pasaran dengan maksud agar mendapatkan keuntungan yang semakin besar.

Singkat cerita, di Negara X berdirilah perusahaan transnasional yang bernama Xanata Oil Corporation (XOC). Perusahaan ini didirikan menurut hukum Negara X. Dari total saham XOC, 35% sahamnya dimiliki oleh Negara X, 25% pengusaha berkewarganegaraan negara Y (negara tetangga), dan sisanya dimiliki oleh pengusaha yang berkewarganegaraan negara Z (negara tetangga). Perusahaan ini dikenal bergerak dibidang eksplorasi minyak di beberapa wilayah kaya minyak di Negara X.

Suatu ketika, berdasarkan laporan riset perusahaan, salah satu wilayah di negara X, tepatnya di kabupaten Xununu, dilaporkan memiliki sumber daya minyak sebesar 976 ribu barrel per hari. Namun, Kabupaten Xununu ini tak hanya kaya minyak, tetapi juga kaya akan situs-situs budaya kuno Etnis Xunian. Kabupaten Xununu ini seluruhnya didiami oleh penduduk asli yang sering dikenal dengan Etnis Xunian dengan jumlah penduduk kurang lebih 8.675 jiwa.

Atas laporan riset tersebut, rapat direksi XOC memutuskan untuk mengeksplorasi wilayah kabupaten Xununu. Ijin eksplorasi sendiri telah dikeluarkan oleh Pemerintah Negara X bulan Maret 2010. Pada saat memulai pembangunan kilang minyak di awal bulan April 2010, sebagian besar masyarakat etnis Xunian melakukan demonstrasi dan menolak pemindahan dari wilayah asalnya. Masyarakat Xunian sendiri beranggapan bahwa wilayah Xununu adalah wilayah suci bagi mereka yang merupakan warisan tradisi dan budaya secara turun temurun dari nenek moyang mereka. Di wilayah Xununu itulah etnis Xunian secara turun temurun menyelenggarakan ritual peribadatan mereka, hidup dan bercocok tanam, mempertahankan sistem kekuasaan yang dipimpin langsung oleh Kepala Suku etnis Xunian, serta rutinitas budaya dan kebiasaan lainnya yang diajarkan oleh nenek moyang Xunian.

Melihat kenyataan tersebut, direksi XOC mengadakan rapat dan memutuskan untuk memindahkan penduduk Xunian secara paksa dengan dasar telah diberikannya ijin eksplorasi dari Pemerintah Negara X. Kemudian, XOC membentuk suatu Tim yang berisi puluhan anggota militer dari negara X dibawah komando Jenderal Xavron. Tim yang disebut TimOX (Team Operation for Xununu) ini bertugas untuk meyakinkan dan memaksa penduduk Xunian agar pindah ke wilayah yang sudah disediakan perusahaan XOC (diluar wilayah Kabupaten Xununu).
Beberapa saat setelah TimOX melakukan tugasnya (April 2010), diketahui bahwa TimOX ini melakukan intimidasi dan bahkan melakukan perkosaan, penganiayaan serta pembunuhan terhadap pimpinan etnis Xunian. Menurut keterangan salah satu personel TimOX, tindakan tersebut dilakukan berdasarkan perintah langsung dari Direksi perusahaan XOC serta telah mendapatkan ijin khusus dari Presiden Xantiago Xagara (Presiden Negara X). Akibat tindakan tersebut, menurut data yang berkembang di media massa, sejumlah 4.000 orang dinyatakan tewas mengenaskan, 430 wanita dilaporkan telah diperkosa secara amoral, 458 anak hilang, serta ratusan lainnya dinyatakan mengalami gangguan mental dan kerusakan fisik.

Pada Juli 2010, kasus tersebut telah diajukan di Pengadilan Nasional Negara X. Namun, akibat kondisi politik yang memanas di negara X, Pengadilan Nasional Negara X memutuskan untuk menghentikan dan menutup kasus ini. Salah satu hakim Pengadilan Negara X beranggapan bahwa Pengadilan Nasional Negara X tidak akan mampu (unable) menyelesaikan kasus ini karena susahnya menjerat para pelaku, khususnya pelaku yang masih mempunyai kedudukan penting di pemerintahan. Perlu diketahui, Negara X sendiri merupakan peserta Statuta Roma dan telah meratifikasinya pada tahun 2008.

Perintah Soal:
1. Siapa saja yang bertanggungjawab atas kejahatan yang terjadi di wilyah kabupaten Xununu tersebut? Sebutkan minimal tiga siapa saja pelakunya dan berikan dasar hukumnya!
2. Apakah kasus tersebut dapat diajukan melalui Mahkamah Pidana Internasional? Jelaskan pendapat anda!
3. Apakah kasus tersebut dapat diajukan melalui Mahkamah Internasional? Jelaskan pendapat anda!

Tugas dikerjakan secara tulis tangan diatas kertas responsi! (khusus kelas A)
Tugas yang plagiat dan terlambat dikumpulkan TIDAK DINILAI.
Deadline: 18 Desember 2019 pukul 15.00 WIB

,

Guest Lecture by Fatma Al Gussain

People with disabilities (PwDs) and special needs have been disproportionately affected by the deterioration in living conditions in the Gaza Strip since March 2017. This situation is driven by a worsening energy crisis, which has resulted in outages of 18-20 hours a day, and an exacerbation of the salary crisis in the public sector, both of which are linked to an escalation in internal Palestinian divisions. The Palestinian Ministry of Social Development estimates that over 49,000 individuals in the Gaza Strip (or 2.4 per cent of the population) suffer from some type of disability, a third of them children. More than 1,100 of these people, including about 300 children, became disabled as a result of injuries incurred during the 2014 hostilities, including approximately 100 amputees.

Responding to that issue, on Wednesday, 22nd of May 2019, Faculty of Law, Universitas Islam Indonesia collaborated with National Center of Community Rehabilitation (NCCR) Palestine conducting guest lecture concerning the “Diplomatic Relations between Republic of Indonesia and Palestine”. The event which was held in the multipurpose room invited Fatma A. Al Ghussain as the NCCR director as a speaker in this occasion. As a moderator, Dodik Setiawan Nur Heriyanto S.H., M.H., LL.M., Ph.D, gave an introduction regarding the brief profile of the NCCR and the current situation in Gaza. In this guest lecture, Fatma explained that there were many victims who suffered from disability because of the attacks carried out by the Israeli government against the Palestinian people, “we need to know that all of these victims are not only Muslims but Christians, Catholics and Jews” she said.

During the event, the participants seemed enthusiastic and gave their attention to the latest issues that occurred in Palestine. Many of the participants asked questions regarding the efforts made by the NCCR and also related to the Palestinian situation, especially the latest gaza. The event was closed with the hand-over of souvenirs from the moderator to the speaker.

Hello world!

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start writing!